Kamis, 27 Juli 2017

Famtrip Membawa Para Blogger Kece ke Bengkulu

Bengkulu merupakan provinsi kecil dengan penduduk paling sedikit di pulau Sumatra. Banyak orang di luar sana yang belum mengetahui Bengkulu. Meskipun dibesarkan di Bengkulu, nyatanya masih banyak yang belum saya ketahui tentang provinsi ini. Namun saya beruntung karena dan lima teman dan blogger bengkulu bisa menjadi peserta famtrip selama tiga hari di Bengkulu bersama teman-teman traveler blogger Indonesia. Mau tau siapa aja para blogger tersebut? Baca disini..
Famtrip ini merupakan salah satu rangkaian acara dari Festival Bumi Rafflesia 2017. Saya bersama teman-teman blogger melakukan perjalanan ke berbagai tempat di Provinsi Bengkulu. Kegiatan ini dilakukan tanggal 21-23 Juli 2017. Famtrip ini dilaksanakan dibawah Dinas Pariwisata Provinsi Bengkulu dan Alesha Tour serta bekerja sama dengan Bengkulu Heritage Society sebagai pemandu wisata.

(Baca Juga: Festival Bumi Rafflesia (FBR) 2017)

Day 1
Baru ketemu beberapa detik udah langsung selfe aja :D.
Photo by @astinsoekanto

The tour would begin.
Photo by @zefpron.saputra

Kegiatan kami diawali dengan penjemputan peserta famtrip dari luar kota di Bandara Fatmawati Soekarno pada tanggal 21 Juli 2017 pukul 08.30. Setelah mereka datang kami pun langsung melanjutkan perjalanan menuju kabupaten Rejang Lebong yang memakan waktu sekitar 3 jam menggunakan bus SAN. Setelah diperjalanan sekitar 40-50 menit bus kami berhenti di hutan lindung liku 9, Taba Penanjung Kabupaten Bengkulu Tengah. Awalnya kami mengira terjadi masalah pada bus tersebut, tapi ternayata pemandu wisata kami mengatakan bahwa ada bunga rafflesia yang sedang mekar sehingga kami diminta turun agar bisa melihat secara langsung puspa langkah tersebut.
Bunga rafflesia yang kami lihat tumbuh sekitar 100 meter di dalam hutan. Di Bengkulu sendiri ada empat jenis rafflesia yang sering tumbuh, yaitu Raffelsia Arnoldi, Gadutensis, Halsetti, dan Bengkuluensis. Bunga yang kami lihat saat famtrip kemaren adalah jenis rafflesia arnoldi dengan diameter 65 cm. Rafflesia biasanya mekar 7-10 hari, kalau cuaca sering hujan maka bunga akan cepat layu. Nah saat kami lihat kemaren bunga baru mekar pada hari ke 3. 
Rafflesia Arnlodi

Setelah melihat bunga rafflesia kami melanjutkan perjalanan menuju Curup, Kabupaten Rejang Lebong yang memakan waktu sekitar 2 jam perjalanan. Sesampainya di kota Curup bus kami berhenti di masjid agung Curup untuk melaksakan sholat Jum’at bagi yang cowok dan sholat zuhur bagi yang cewek. Setelah itu baru kami melanjutkan perjalanan ke rumah makan Lesehan Pancur untuk makan siang.
Nah setelah itu kami menuju ke taman bunga yang terletak di perbatasan Curup-Lubuk Linggau, tepatnya di jalan raya Curup-Lubuk Linggau. Taman bunga ini bernama Taman Bunga Inaya yang letaknya bersebelahan dengan Danau Mas Harun Bastari dan kebun strawberry. Ada banyak macam bunga yang ditanam di taman ini, mulai dari bunga matahari, bunga krokot, kenikir, dll. Taman bunga ini dipersiapkan untuk garden flower festival 2020 dan menyambut ulang tahun ke 52 Provinsi Bengkulu.
Karena fotonya rame-rame dan jaraknya jauh jadi mukanya pada gak jelas :D
Photo by @ichan.dgmc

Setelah puas berkeliling dan berfoto di taman bunga, kami melanjutkan perjalanan ke Kabupaten Kepahiang, yaitu ke hutan konservasi Bunga Bangkai, Amorphopallus Titanium. Sesampainya di sana sudah ada seorang penjaga bunga bangkai tersebut, sayangnya kami sampai di hutan konservasi sudah sore sehingga tidak bisa berlama-lama berada di sini karena hari sudah mulai gelap.
Amorphopallus Titanum

Bus kami pun melanjutkan perjalanan ke Restoran Setia Utama Kepahiang untuk makan malam dan dilanjutkan dengan perjalanan ke Bengkulu. Rombongan famtrip kami sampai di Bengkulu pukul 22.00 dan langsung menuju Hotel Amaris tempat kami menginap. Perjalanan hari ini sangat berkesan dan menyenangkan. Kami sangat beruntung karena bisa melihat dua puspa langka dalam sekali perjalanan, selain itu cuaca juga sangat cerah. Menurut pemandu wisata, di hutan konservasi tersebut sering terjadi hujan bahkan dalam sebulan bisa 20 harinya turun hujan.
Day 2
          Hari kedua famtrip kami diawali dengan sarapan di hotel. Kegiatan hari ini dimulai 09.00, namun saya dan beberapa teman blogger (mbak Ani Berta, mbk Astin, kak Olive dan mbak linda) langsung menuju pantai panjang. Setelah pukul 09.00 WIB kami menuju sport center untuk meliput di finish line triathlon. Di sini kami bisa bejalan-jalan untuk mengeksplor Pantai Panjang yang merupakan pantai terpanjang di Indonesia dengan garis pantai yang mencapai 7 KM. Oh iya, beberapa teman blogger membeli gorangan (rajungan, ikan layur, dll) dengan harga 3 buah 10.000. Kata mereka itu murah banget haha.
Pukul 11.45 kami kembali ke hotel untuk bersiap-siap menuju Marola Resto yang merupakan salah satu rumah makan yang menyediakan makanan khas Bengkulu. Sesampainya di sana kami langsung disuguhi berbagai macam see food, dan makanan khas Bengkulu, seperti  tempoyak, pendap, dll. Setelah solat zuhur kami melanjutkan perjalanan menuju meseum daerah Bengkulu di jln. Pembangunan Padang Harapan.
Photo by @ichan.dgmc

Tempoyak udang

Pendap

Meseum ini menyimpan berbagai macam benda-benda bersejarah di Bengkulu, seperti replika tongkat raja Bengkulu, bermacam-macam rumah adat dari berbagai suku di Bengkulu, pelaminan khas Bengkulu, huruf kaganga, batik basurek kuno, dll. Selain benda-benda bersejarah, museum ini juga menyadikan deskripsi dari masing-masing kabupaten dan kota di Bengkulu. Bengkulu sendiri memiliki 9 kabupaten dan 1 kota, dimana tiap kabupaten memiliki bahasa daerahnya sendiri. Sedangkan bahasa pemersatu di provinsi ini adalah bahasa melayu Bengkulu.
Museum Bengkulu
Photo by @ichan.dgmc

Salah satu replika rumah adat yang ada di museum Bengkulu

Perjalanan kami dilanjutkan dengan menghadiri festival kopi di sport center. Festival ini diikuti dengan bermacam-macam brand kopi lokal Bengkulu, seperti kopi mangkuraja, villco, gading cempaka, dll. Kami pun berkesempatan mencicipi kopi arabika manguraja. Tidak banyak waktu yang kami habiskan di sini karena harus melanjutkan perjalanan menuju rumah pengasingan Bung Karno.  
Rumah pengasingan Bung Karno di Bengkulu

Rumah pengasingan Bung Karno terletak di jalan Soekarno Hatta kelurahan anggut atas kota Bengkulu. Desain rumah ini dipengaruhi oleh tiga budaya, yaitu Bengkulu, China, dan Belanda. Setelah diasingkan di Ende, Flores, Bung Karno selanjutnya diasingkan ke Bengkulu tahun 1934-1938. Rumah ini menyimpan buku-buku bacaan Bung Karno, sepeda ontelnya, kostum perkumpulan sandiwara monte carlo yang didiran Bung Karno, tempat tidur yang dipakai Bung Karno dan ibu Inggit Ganarsih. Selain itu di belakang rumah ini juga terdapat sumur tua yang dipercaya bisa mendatangkan jodoh jika mencuci muka disumur tersebut.
Tari Persembahan Bengkulu

Perjalanan kamipun dilanjutkan menuju Benteng Malborough. Sesampainya di benteng kami disambut dengan tarian persembahan Bengkulu dan juga pertunjukan musik dol. Benteng ini merupakan benteng pertahanan peninggalan Inggris terbesar di Asia Tenggara yang dibangun oleh East India Company tahun 1713-1719 dibawah pimpinan gubernur Joseph Callet. Bangunan benteng ini masih berdiri kokoh meskipun sudah berumur lebih dari 200 tahun.
Dalam benteng ini terdapat tiga makam pemimpin Inggris yang tewas di bunuh di Bengkulu, yaitu Charles Murray, Thomas  Parr, dan Robert Hamilton. Selain itu di dalam benteng juga terdapat ruang-ruang bekas tahanan, meriam peninggalan Inggris, dll.
Setelah puas berkeliling di benteng kami pun pulang ke hotel untuk bersiap-siap menghadiri makan malam di KRI Banda Aceh yang sedang merapat di pelabuhan Pulau Baai Bengkulu. KRI tersebut dijadikan tempat start lomba renang triathlon dalam rangkaian acara Festival Bumi Rafflesia 2017. 
KRI Banda Aceh yang bersandar di Pelabuhan Pulau Baai, Bengkulu

Ngantri buat naik  ke KRI
photo by @ichan.dgmc

Selain acara makan malam, di KRI tersebut juga berlangsung acara pengumuman pemenang lomba triathlon. Setelah seluruh rangkaian acara selesai kami pun pulang ke hotel untuk beristirahat.
Day 3
          Hari terakhir famtrip kali ini kami mengunjungi salah satu pusat oleh-oleh yang ada di kota Bengkulu. Para reserta famtrip langsung berburu oleh-oleh yang ingin mereka bawa pulang. Pusat oleh-oleh ini menyediakan berbagai macam makanan dan kerajinan khas Bengkulu, seperti lempuk, kue bay tat, sirup kalamansi, manisan terong, manisan rumput laut dan tidak lupa pula batik basurek khas Bengkulu serta berbagai kerajinan dari kulit lantung.
          Setelah puas berbelanja kami langsung menuju hotel santika untuk menghadiri konferensi pers sekaligus penutupan famtrip ini. Konferensi pers ini dihadiri oleh bapak kadispora Provinsi Bengkulu, perwakilan Alesha Wisata, serta beberapa media lokal Bengkulu. Acara famtrip kami berakhir dengan mengantar teman-teman blogger peserta famtip ke Bandara Fatmawati untuk segera kembali lagi ke daerahnya masing-masing.
Penutupan famtrip 2017
Photo by Media Center Bengkulu

Terima kasih banyak teman-teman blogger untuk ilmu dan pengalamannya. Senang sekali bisa bertemu dengan blogger-blogger kece seperti kalian. Terima kasih banyak juga untuk dispar Bengkulu dan Alesha Wisata yang sudah mengadakan famtrip dan mengajak kami traveling untuk mengeksplor Bengkulu.
Oh iya saya benar-benar belajar banyak dari para traveller blogger ini. Salah satunya untuk mendapatkan foto dan tulisan yang bagus itu gak gampang. Butuh proses dan revisi sana sini. Bahkan terkadang untuk memotret satu objek saja dibutuhkan bidikan kamera yang gak cuma sekali atau dua kali, tapi berkali-kali bahkan sampai puluhan kali meskipun yang akan digunakan hanya satu foto saja.
          Begitupun dengan tulisan-tulisan di blog mereka, butuh waktu untuk dan proses untuk membuatnya apik dan enak dibaca. Dibalik sesuatu  yang enak dipandang dan dibaca butuh proses dan perjuangan yang gak segampang membalikkan telapak tangan ya teman-teman.

Tulisan ini untuk menjawab tantangan Blogger Bengkulu dalam #NulisSerempak tentang #FestivalBumiRafflesia


2 komentar:

  1. Wahhhh, enak banget ya mba bisa jejalan bareng mereka, Pasti pada sharing oengalaman gimana mereka bisa jadi blogger kece

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah mbak dapet kesempatan utk ketemu dan traveling bareng mereka.
      Banyak bgt pengalaman dan ilmu baru setelah sharing sama mereka hehe

      Hapus